Tanjung Jabung Timur,KM – Di tengah hamparan perkebunan sawit yang mendominasi bentang alam Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebuah perubahan perlahan tumbuh dari dengung ribuan lebah madu. Perubahan itu bukan hanya menghadirkan sumber pendapatan baru bagi masyarakat, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam demi masa depan yang berkelanjutan.
Salah satu sosok yang merasakan langsung perubahan tersebut adalah Sutrisno, warga Desa Suka Maju yang kini dikenal sebagai peternak lebah madu sukses. Beberapa tahun lalu, kehidupannya bergantung sepenuhnya pada sektor perkebunan sawit. Namun kini, usaha budidaya lebah madu telah menjadi sumber ekonomi alternatif yang menjanjikan bagi keluarganya.

“Ketika peluang bertemu dengan kemauan, kesejahteraan bukan lagi impian, melainkan kenyataan yang tumbuh bersama alam” Di tengah hamparan kebun sawit Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, secercah harapan tumbuh dari dengung ribuan lebah. Foto ini merekam perjalanan Sutrisno, peternak lebah lokal yang berhasil mengubah tantangan ekonomi menjadi peluang usaha berkelanjutan melalui budidaya madu.
Dengan dukungan program pemberdayaan masyarakat PHE Jambi Merang, usaha yang awalnya hanya berbekal 10 kotak koloni kini berkembang menjadi ratusan koloni lebah produktif. Produksi madu yang terus meningkat tidak hanya memperkuat perekonomian keluarga, tetapi juga membuka peluang penghasilan baru bagi masyarakat sekitar.
Lebih dari sekadar aktivitas beternak, budidaya lebah menjadi simbol harmoni antara manusia dan lingkungan. Upaya penghijauan melalui penanaman ribuan pohon bunga dan tanaman buah turut menjaga keberlangsungan ekosistem sekaligus mendukung produktivitas lebah madu
Perjalanan Sutrisno memasuki dunia perlebahan bermula pada tahun 2021. Ketika itu ia melihat sejumlah warga mengikuti pelatihan budidaya lebah yang difasilitasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PHE Jambi Merang. Ketertarikannya muncul setelah mengetahui tingginya nilai ekonomi madu serta peluang usaha yang terbuka bagi masyarakat desa.
“Usia bukan alasan untuk berhenti belajar. Saat ada kesempatan, saya memutuskan ikut pelatihan dan mencoba usaha baru ini,” ungkap Sutrisno mengenang awal keterlibatannya.
Namun perjalanan menuju keberhasilan tidak berlangsung mulus. Pada tahun pertama pengembangan usaha, koloni lebah yang mereka pelihara mengalami serangan hama dan gangguan satwa liar, termasuk beruang. Akibatnya, seluruh hasil produksi gagal dipanen dan tidak ada madu yang dapat dipasarkan.

“Dari setetes madu lahir harapan, dari kolaborasi tumbuh kesejahteraan, dan dari kepedulian tercipta masa depan yang lebih baik.” Di balik dengung lebah yang terdengar sederhana, tersimpan kisah kolaborasi yang mengubah kehidupan masyarakat. Foto ini merekam semangat kebersamaan antara PHE Jambi Merang dan warga Desa Suka Maju dalam membangun ekonomi berbasis lingkungan melalui program Beyond Honey.
Program ini tidak hanya menghasilkan madu berkualitas, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat. Dari puluhan kotak koloni yang terus berkembang, lahir sumber penghasilan berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus memperkuat ekonomi desa.
Lebah menjadi simbol keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam. Melalui penanaman ribuan pohon pakan lebah serta pengelolaan budidaya yang ramah lingkungan, masyarakat diajak menjaga ekosistem agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
Kondisi tersebut sempat mematahkan semangat para peternak. Meski demikian, dukungan berkelanjutan dari PHE Jambi Merang menjadi titik balik penting bagi kelompok budidaya lebah di Desa Suka Maju. Berbagai pelatihan lanjutan, pendampingan teknis, hingga bantuan pemulihan koloni terus diberikan agar usaha masyarakat tetap berjalan.
Kesabaran dan kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Memasuki tahun 2024, kelompok budidaya lebah yang dipimpin Sutrisno berhasil menikmati panen besar pertama setelah melewati masa-masa sulit selama beberapa tahun sebelumnya.
“Bagi kami ini seperti kebangkitan. Koloni kembali berkembang dan usaha yang sempat terancam berhenti akhirnya bisa menghasilkan,” ujarnya.

“Dari alam yang terjaga lahir madu berkualitas, dari madu berkualitas tumbuh ekonomi rakyat, dan dari ekonomi yang kuat tercipta masa depan yang lebih hebat.” Di balik setiap tetes madu yang dihasilkan, tersimpan kisah perjuangan, inovasi, dan semangat kemandirian masyarakat Desa Suka Maju. Program Beyond Honey binaan PHE Jambi Merang tidak hanya mendorong peningkatan produksi madu, tetapi juga menciptakan berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi yang mampu menembus pasar yang lebih luas.
Foto ini menggambarkan proses transformasi dari hasil alam menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing. Beragam olahan madu yang dipajang di rak bukan sekadar produk komersial, melainkan bukti nyata bahwa pemberdayaan masyarakat mampu melahirkan peluang usaha baru, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Melalui pendampingan berkelanjutan, masyarakat tidak hanya diajarkan cara menghasilkan madu berkualitas, tetapi juga mengembangkan keterampilan pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk. Langkah ini menjadikan madu sebagai sumber ekonomi hijau yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Program ini membuktikan bahwa pembangunan yang berdampak adalah pembangunan yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Ketika sumber daya lokal dikelola dengan baik, maka lahirlah produk berkualitas, ekonomi yang kuat, dan masyarakat yang semakin mandiri.
Transformasi tersebut tidak terlepas dari Program Beeyond Honey yang digagas PHE Jambi Merang. Program ini dirancang sebagai inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek ekonomi, konservasi lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Melalui program tersebut, masyarakat tidak hanya menerima bantuan sarana budidaya, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai manajemen koloni, teknik panen modern, pengendalian hama, hingga pengelolaan vegetasi sebagai sumber pakan lebah. Pendekatan ini memungkinkan budidaya dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak keseimbangan alam.

Officer Community Involvement and Development Regional 1 PHE Jambi Merang, Baskoro Adhi Pratomo, menjelaskan bahwa keberadaan lebah memiliki peran strategis dalam menjaga kesehatan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Budidaya lebah madu merupakan bentuk pemberdayaan yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga ekosistem. Lebah menjadi indikator lingkungan yang sehat sehingga keberlanjutan alam dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan,” jelasnya.
Program Beeyond Honey saat ini telah berkembang di tiga desa, yakni Desa Suka Maju, Pandan Lagan, dan Rantau Karya. Pada tahap awal, masing-masing desa menerima bantuan 10 kotak koloni lebah setiap tahun selama tiga tahun sebagai modal dasar pengembangan usaha.
Perkembangannya terbilang luar biasa. Di Desa Suka Maju saja, jumlah koloni kini telah mencapai sekitar 300 kotak sarang. Angka tersebut meningkat berkali-kali lipat dibandingkan saat program pertama kali diperkenalkan.
Kelompok Budidaya Lebah Madu Sabak yang beranggotakan 10 orang peternak kini mampu menghasilkan antara 150 hingga 250 kilogram madu setiap bulan, tergantung kondisi cuaca dan musim bunga. Produksi tersebut memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.
Sutrisno mengakui bahwa sebelum mendapatkan pendampingan, para peternak hanya memahami budidaya lebah secara tradisional. Teknik panen yang kurang tepat bahkan sering merusak sarang dan menurunkan produktivitas koloni.
“Setelah mendapatkan pelatihan, kami memahami cara panen yang benar sehingga koloni tetap sehat dan produksi madu meningkat secara berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, keberadaan lebah memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar penghasil madu. Serangga ini berperan penting dalam proses penyerbukan tanaman yang menjadi penopang ketahanan pangan dunia.
Kini aktivitas budidaya lebah telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Suka Maju. Selain memberikan penghasilan tambahan, usaha ini juga membuka peluang ekonomi baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh warga.
Hal serupa dirasakan Nurdin, anggota kelompok budidaya lainnya. Ia mengaku semakin percaya diri menjalankan usaha perlebahan setelah memperoleh pelatihan mengenai standar keselamatan kerja serta teknik pengelolaan koloni yang baik.
“Bagi kami, lebah bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Justru dari sinilah kami memperoleh tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Keberhasilan kelompok budidaya lebah tidak terlepas dari peran pendamping lapangan yang dilakukan secara konsisten. Ketua Bina Siginjai Permata, Roni Ahmad Saputra, mengatakan hingga saat ini terdapat sedikitnya 15 peternak yang aktif mendapatkan pembinaan intensif.
Dari seluruh anggota binaan, Sutrisno dinilai sebagai salah satu peternak paling progresif. Selain berhasil memperbesar jumlah koloni, ia juga mampu mengelola aspek produksi, pemasaran, hingga administrasi usaha secara mandiri.
“Saat ini Pak Tris memiliki lebih dari 160 kotak sarang aktif dan terus berkembang. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi peternak lain di wilayah Geragai,” ujar Roni.
Meski demikian, tantangan dalam budidaya lebah masih cukup besar. Perubahan iklim, keterbatasan pakan alami, gangguan hama, hingga fluktuasi harga madu menjadi persoalan yang harus dihadapi para peternak setiap tahun.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, kelompok peternak bersama pendamping terus mendorong lahirnya inovasi, termasuk penguatan kelembagaan melalui koperasi yang berfungsi sebagai pusat pengelolaan hasil panen, pemasaran, serta pengembangan usaha.
Di sektor hilir, program ini juga mendorong tumbuhnya usaha mikro berbasis produk turunan madu. Berbagai produk olahan seperti Grubi Madu, Keripik Masinis, dan Madu Jantan atau Jahe Instan kini telah diproduksi secara komersial oleh UMKM binaan.
Ketua UMKM binaan, Undriwati, menyebutkan bahwa produk-produk tersebut mulai mendapat respons positif dari pasar karena memiliki ciri khas lokal dan kualitas yang terjaga.
Komitmen keberlanjutan program semakin diperkuat melalui pembangunan rumah produksi yang menjadi pusat pengolahan sekaligus galeri pemasaran produk madu dan turunannya. Fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga standar mutu produk.
Manager Community Involvement and Development PHR Regional I Sumatra, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa seluruh tahapan program telah dirancang untuk menciptakan kemandirian masyarakat setelah masa pendampingan berakhir.
“Kami ingin memastikan masyarakat memiliki kapasitas, kelembagaan, dan akses pasar yang cukup sehingga mampu mengembangkan usaha secara mandiri di masa mendatang,” ujarnya.
Keberhasilan program ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Suka Maju. Kepala Desa Didik Budi Cahyanto melihat potensi besar budidaya lebah untuk dikembangkan menjadi destinasi eduwisata berbasis lingkungan.
Menurutnya, konsep wisata edukasi perlebahan dapat menjadi daya tarik baru yang tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat desa.
Di sisi lain, Program Beeyond Honey turut memberikan dampak ekologis yang signifikan. Melalui kegiatan revegetasi, ribuan pohon bunga dan tanaman buah telah ditanam untuk memperkuat sumber nektar sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan sekitar.
Upaya tersebut menjadi sangat penting mengingat tingginya tekanan alih fungsi lahan di Provinsi Jambi yang berpotensi mengurangi habitat alami lebah dan mengancam keberlanjutan ekosistem.
Saat ini Program Beeyond Honey telah berkembang menjadi lebih dari sekadar program CSR perusahaan. Inisiatif ini telah menjelma menjadi gerakan sosial-ekologis yang menghubungkan kepentingan ekonomi masyarakat dengan upaya konservasi lingkungan secara nyata.
Dari puluhan kotak sarang yang dibangun di awal program, kini ratusan koloni lebah menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah desa. Sebuah bukti bahwa energi pembangunan tidak selalu lahir dari sumber daya alam yang dieksploitasi, tetapi juga dari kepedulian yang tumbuh untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
Di Desa Suka Maju, dengung lebah hari ini bukan sekadar suara alam. Ia telah menjadi simbol harapan, kemandirian ekonomi, dan masa depan yang dibangun bersama untuk generasi yang akan datang.(Eggy)








Komentar