Lapangan Cantik: Dari Kisah Mistis di Tengah Kebun Karet Menjadi Aset Strategis Penopang Energi Indonesia

Muara Enim, Sumsel72748 Dilihat

MUARA ENIM,KM – Di balik derasnya kebutuhan energi yang terus meningkat, industri hulu minyak dan gas bumi (migas) tetap menjadi salah satu pilar utama yang menopang ketahanan energi Indonesia. Upaya menjaga keberlanjutan pasokan energi tidak hanya bergantung pada lapangan-lapangan besar yang telah lama berproduksi, tetapi juga pada pengembangan wilayah migas baru yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi negara.

Sebagai sektor yang mengelola sumber daya tak terbarukan, industri hulu migas dituntut terus melakukan eksplorasi, pengeboran, pengembangan lapangan, hingga optimalisasi produksi agar ketersediaan energi nasional tetap terjaga di tengah tantangan penurunan alamiah cadangan migas.

Satukan dukungan sukseskan eksplorasi migas untuk energi indonesia setiap dukungan energi untuk negeri Eksplorasi berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat dan masa depan bangsa.

Di Sumatera Selatan, salah satu kontribusi penting terhadap pasokan energi nasional datang dari Lapangan Gas Cantik yang berada di Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim. Lapangan yang dikelola PT Sele Raya Belida (SRB) dalam Wilayah Kerja Belida itu kini menjadi aset strategis yang terus dikembangkan guna menjaga stabilitas produksi gas bumi nasional.

Tidak hanya menghasilkan energi, keberadaan Lapangan Cantik juga membawa dampak ekonomi yang luas. Aktivitas industri yang berlangsung di wilayah tersebut turut membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan usaha lokal, serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat sekitar.

SAFETY TODAY, ENERGY TOMORROW
Komitmen HSSE, Fondasi Operasi Andal
Pekerja HSSE PT Sele Raya Belida (SRB)
melakukan penyemprotan hidran sebagai bagian dari upaya peningkatan kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap potensi keadaan darurat.
WASPADA, TERLATIH, TANGGAP
Setiap tetes air adalah bentuk kesiapan, setiap tindakan adalah bentuk kepedulian, setiap usaha adalah untuk keselamatan kita semua

HSSE Supervisor PT Sele Raya Belida, Dipo, menjelaskan bahwa Lapangan Cantik saat ini memegang peran penting dalam menopang produksi gas perusahaan. Berbagai upaya optimalisasi terus dilakukan agar tingkat produksi tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang.

Menurutnya, produksi gas dari lapangan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung target ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat peran sektor hulu migas sebagai penyedia energi bagi berbagai sektor pembangunan.

“Operasional Lapangan Cantik difokuskan untuk menghasilkan gas secara optimal sehingga mampu menjaga tingkat lifting dan produksi perusahaan. Ini merupakan kontribusi nyata kami dalam mendukung keberlanjutan pasokan energi nasional,” ujar Dipo.

 

Ia mengungkapkan bahwa produksi PT Sele Raya Belida tidak hanya bersumber dari Lapangan Cantik. Kawasan Sungai Anggur Selatan (SAS) juga menjadi salah satu penopang utama yang turut memberikan kontribusi terhadap capaian produksi perusahaan.

Saat ini PT SRB mengoperasikan delapan sumur produksi yang tersebar di dua kawasan tersebut. Seluruh sumur merupakan bagian dari program pengembangan lapangan migas baru yang dirancang untuk memastikan keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.

Dengan kedalaman rata-rata mencapai sekitar 2.000 meter dari permukaan tanah, sumur-sumur tersebut mampu menghasilkan gas yang menjadi bagian penting dari rantai pasokan energi nasional.

“Pengembangan sumur baru menjadi langkah strategis untuk menjaga kesinambungan produksi. Kedalaman yang mencapai sekitar 2.000 meter memungkinkan kami memperoleh cadangan gas yang memberikan kontribusi terhadap kebutuhan energi Indonesia,” jelasnya.

Secara keseluruhan, PT Sele Raya Belida saat ini mengelola empat lapangan produksi dengan area operasi mencapai sekitar delapan hektare. Pengelolaan yang berkelanjutan menjadi fokus utama perusahaan agar setiap lapangan mampu memberikan manfaat maksimal bagi negara.

Prospek pengembangan Wilayah Kerja Belida semakin menjanjikan setelah ditemukannya cadangan migas baru di Sumur Sungai Anggur Selatan-2 (SAS-2). Temuan tersebut menjadi sinyal positif bahwa kawasan ini masih menyimpan potensi besar yang dapat terus dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional di masa mendatang.

Di balik produktivitasnya, Lapangan Cantik menyimpan kisah unik yang menarik perhatian. Nama “Cantik” ternyata bukan sekadar penamaan lokasi, melainkan sebuah simbol harapan akan lahirnya produksi gas yang berkualitas dan memberikan manfaat besar bagi perusahaan maupun negara.

Field Superintendent PT SRB, Elvi Kurnia Hakim, mengungkapkan bahwa nama tersebut dipilih sebagai representasi optimisme terhadap potensi lapangan yang dikembangkan perusahaan.

“Kami berharap lapangan ini mampu menghasilkan produksi gas yang baik, berkualitas, dan memberikan kontribusi besar. Karena itulah diberi nama Cantik,” ungkap Elvi.

Sebelum berubah menjadi fasilitas migas modern, kawasan seluas sekitar 1,2 hektare itu merupakan area perkebunan dan hutan karet milik masyarakat. Bahkan, masyarakat setempat mengenal lokasi tersebut dengan berbagai cerita dan mitos yang berkembang turun-temurun.

Namun seiring berjalannya waktu, kawasan yang dulunya dikenal melalui cerita rakyat itu kini menjelma menjadi salah satu pusat produksi gas yang memiliki nilai strategis bagi ketahanan energi Indonesia.

Lapangan Cantik mulai beroperasi pada 2019. Pada awal pengembangannya, lapangan tersebut diperkirakan hanya mampu berproduksi hingga 2024. Namun berbagai langkah optimalisasi yang dilakukan perusahaan berhasil memperpanjang usia produksi lapangan hingga saat ini.

“Awalnya diprediksi berhenti berproduksi pada 2024, tetapi berkat pengelolaan yang optimal hingga sekarang lapangan ini masih menghasilkan gas,” kata Elvi.

Saat ini produksi Lapangan Cantik mencapai sekitar 1,3 MMSCFD dan masih menjadi salah satu kontributor penting terhadap total produksi gas PT Sele Raya Belida.

Produksi tersebut berasal dari Sumur Cantik-1 yang mulai beroperasi pada pertengahan 2020 setelah memperoleh persetujuan Plan of Development (POD) dari SKK Migas. Pada tahap awal pengembangannya, sumur tersebut dirancang menghasilkan gas sekitar 2,5 hingga 3 MMSCFD.

Selain menopang kebutuhan energi nasional, industri migas di Wilayah Kerja Belida juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu bentuk komitmen yang dijalankan perusahaan adalah mengutamakan tenaga kerja lokal dalam berbagai kegiatan operasional.

PR Supervisor PT Sele Raya Belida, Valentina, mengatakan bahwa perusahaan secara konsisten membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam industri migas.

Saat ini sekitar 90 persen tenaga kerja yang bekerja bersama PT Sele Raya Belida berasal dari wilayah sekitar operasi, baik tenaga kerja terampil maupun tenaga kerja umum.

“Kami berkomitmen memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk tumbuh bersama industri migas. Karena itu sebagian besar tenaga kerja yang terlibat dalam operasional perusahaan berasal dari daerah sekitar,” ujarnya.

Tidak hanya tenaga kerja, perusahaan juga menggandeng berbagai pelaku usaha lokal untuk mendukung kebutuhan operasional. Vendor-vendor tersebut berasal dari Kabupaten Muara Enim, Kecamatan Lembak, hingga Kota Prabumulih.

Keterlibatan mereka mencakup penyediaan barang dan jasa, transportasi, logistik, konstruksi, serta berbagai layanan pendukung lainnya yang secara langsung menggerakkan roda ekonomi daerah.

“Kami berupaya memastikan manfaat industri migas tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat dan pelaku usaha lokal yang menjadi mitra dalam berbagai kegiatan operasional,” kata Valentina.

Di tengah tuntutan peningkatan produksi, aspek keselamatan kerja tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Seluruh aktivitas operasional dijalankan berdasarkan standar Health, Safety, Security and Environment (HSSE) yang ketat guna menjamin operasi berlangsung aman dan berkelanjutan.

Dipo menegaskan bahwa budaya keselamatan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh aktivitas migas yang dijalankan perusahaan.
“Keselamatan kerja merupakan prioritas utama. Semua pekerjaan dilakukan sesuai prosedur dan standar yang berlaku agar operasi berlangsung aman, andal, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Selain aspek keselamatan, seluruh kegiatan operasional juga harus memenuhi ketentuan lingkungan hidup dan perizinan yang dipersyaratkan pemerintah.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri SH, menegaskan bahwa keberhasilan industri hulu migas membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, eksplorasi dan pengembangan energi tidak dapat dilakukan sendiri.

Dukungan masyarakat, pemerintah daerah, perusahaan, serta berbagai stakeholder menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri migas nasional.

“Industri hulu migas memerlukan sinergi semua pihak. Dengan dukungan stakeholder, manfaat kegiatan migas dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, daerah, maupun negara,” ujarnya.

Syafei menjelaskan bahwa SKK Migas bersama seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus menjalankan berbagai program strategis untuk menjaga produksi nasional. Langkah tersebut meliputi eksplorasi, pengeboran sumur baru, workover, well intervention, hingga optimalisasi lapangan yang telah berproduksi.

Menurutnya, tanpa eksplorasi dan pengembangan berkelanjutan, produksi migas nasional akan mengalami penurunan secara alami seiring berkurangnya cadangan yang tersedia.

“Karena itu diperlukan pengembangan lapangan, perawatan sumur, dan pencarian cadangan baru agar produksi tetap terjaga bahkan meningkat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa setiap kegiatan eksplorasi selalu membawa harapan baru bagi masa depan industri migas Indonesia. Penemuan cadangan baru tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Setiap eksplorasi selalu membuka peluang baru. Ketika ditemukan cadangan migas baru, manfaatnya tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga negara dan masyarakat,” ungkapnya.

Syafei juga menegaskan bahwa seluruh aktivitas migas wajib dilaksanakan sesuai regulasi yang berlaku, termasuk pemenuhan dokumen lingkungan seperti AMDAL dan berbagai izin yang dipersyaratkan pemerintah.

Menurutnya, kepatuhan terhadap aspek lingkungan dan legalitas menjadi fondasi utama sebelum suatu proyek migas dapat dijalankan.

Pemerintah sendiri menargetkan produksi minyak nasional tahun ini mencapai sekitar 610 ribu barel per hari. Untuk mewujudkan target tersebut, SKK Migas bersama seluruh KKKS terus bekerja keras menjaga stabilitas produksi sekaligus mendorong peningkatan kapasitas produksi nasional.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Lembak, Bob Permana atau yang lebih dikenal sebagai Panglima Lembak, menilai kehadiran PT Sele Raya Belida telah membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Menurutnya, dampak positif tersebut tidak hanya terlihat dari penyerapan tenaga kerja, tetapi juga dari tumbuhnya berbagai usaha lokal yang berkembang seiring aktivitas industri migas.

“Kami merasakan langsung manfaat kehadiran perusahaan. Banyak warga yang memperoleh pekerjaan dan kesempatan usaha sehingga ekonomi masyarakat ikut bergerak,” ujarnya.

Bob juga mengapresiasi komitmen perusahaan dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Aktivitas industri migas dinilai telah memberikan efek berantai yang mendorong pertumbuhan sektor jasa, perdagangan, transportasi, hingga usaha mikro di wilayah sekitar operasi.

Selain menjalankan fungsi produksi energi, PT Sele Raya Belida aktif melaksanakan berbagai program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) serta Corporate Social Responsibility (CSR).

Program-program tersebut mencakup kegiatan sunatan massal, bantuan alat kesehatan, rehabilitasi fasilitas pendidikan, penanaman mangrove, pemberian beasiswa, penghijauan lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Berbagai inisiatif tersebut menjadi bukti bahwa industri migas tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga berupaya menghadirkan manfaat sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Kegiatan hulu migas memiliki dampak berganda yang sangat besar. Selain mendukung ketahanan energi nasional, keberadaannya juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pembangunan daerah,” pungkas Syafei.(Eggy)

Komentar