Panen Ikan KWT Pelangi Mangunjaya, Bukti Nyata Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Lingkungan

Muba42339 Dilihat

Musi Banyuasin, KM– Suasana berbeda tampak di Kelurahan Mangunjaya, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis sore. Di tengah rintik hujan yang menyejukkan, warga berkumpul di pinggir keramba apung untuk menyaksikan panen ikan yang telah lama dinantikan.Kamis(23/04/26).

Ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Pelangi tampak antusias menebar jaring, memanen ikan-ikan yang sejak pagi telah terlihat aktif di dalam keramba. Aktivitas tersebut berlangsung penuh semangat, diselingi tawa dan obrolan hangat yang mencerminkan kebersamaan dan kekompakan warga.

Panen ini menjadi buah dari kerja keras dan ketekunan 25 perempuan anggota KWT Pelangi yang sejak 2025 mengelola budidaya ikan melalui program Karo Mamang (Keramba Apung Organik Ekonomi Mangunjaya). Program ini merupakan inisiatif Pertamina EP (PEP) Ramba Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, dalam mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi berkelanjutan.

Melalui budidaya ikan tersebut, roda perekonomian warga mulai bergerak. Hasil panen tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk turunan yang mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu anggota KWT Pelangi, Reni, mengungkapkan rasa syukurnya atas hasil panen yang mulai memberikan dampak ekonomi bagi keluarganya. “Kami sangat senang dengan hasil panen hari ini. Berkat pendampingan dari PEP Ramba Field, kami memahami proses perawatan hingga panen. Ini sangat membantu menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Lurah Mangunjaya, Fitriya. Ia menilai kegiatan ini bukan sekadar panen rutin, melainkan bentuk nyata pemberdayaan masyarakat yang berdampak luas.

“Kami berharap program ini terus berlanjut dan berkembang. Dukungan CSR dari PEP Ramba Field sangat berarti, dan diharapkan dapat menghadirkan lebih banyak kegiatan serupa yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Fitriya.

Lebih dari sekadar meningkatkan ekonomi, program Karo Mamang juga berperan sebagai solusi alternatif saat kondisi lingkungan tidak menentu, seperti saat banjir yang berpotensi menyebabkan gagal panen. Selain itu, konsep keramba apung organik yang diterapkan turut mendukung pelestarian lingkungan dengan meminimalkan limbah dan menjaga ekosistem perairan.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menyampaikan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi antara masyarakat dan para pemangku kepentingan.

“Program Karo Mamang kami jalankan melalui perencanaan matang dan pendampingan berkelanjutan, mulai dari tahap awal hingga panen. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat Mangunjaya,” ungkapnya.

Keramba apung organik di Mangunjaya kini tidak hanya menjadi sarana budidaya perikanan, tetapi juga simbol keberanian masyarakat untuk berinovasi dan berdaya. Dari keramba-keramba tersebut, tumbuh harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus pelestarian lingkungan.(Eggy)

Komentar