Dari Singkong ke Mocaf, KWT Embun Pagi Desa Simpang Bayat Binaan PHE Jambi Merang Bangun Kemandirian Pangan

Muba83765 Dilihat

Musi Banyuasin,KM  — Menjelang azan Magrib, dapur-dapur warga Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, mulai dipenuhi kesibukan. Aroma manis cendol dawet berpadu dengan wangi cuko pempek yang menggoda selera. Di balik sajian berbuka tersebut, tersimpan kisah pemberdayaan perempuan desa yang kini mengolah singkong menjadi tepung mocaf bernilai ekonomi.

Sajian takjil itu dihasilkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, kelompok binaan PHE Jambi Merang yang bermukim di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat. Di wilayah ini, singkong menjadi komoditas yang mudah ditemui dan lazim ditanam di kebun maupun pekarangan rumah warga. Namun selama bertahun-tahun, singkong hanya dijual mentah dengan harga yang relatif rendah.

“Panen singkong di sini melimpah, tapi harganya murah, hanya sekitar dua ribu rupiah per kilogram,” ujar Riyanti (45), salah satu anggota KWT Embun Pagi. Menurutnya, penghasilan dari penjualan singkong mentah belum mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Perubahan mulai dirasakan setelah KWT Embun Pagi mendapatkan pendampingan pengembangan produk berbasis mocaf (modified cassava flour). Proses produksi diperkuat dari sisi kualitas, standarisasi pengolahan, hingga kemasan dan strategi pemasaran. Melalui tahapan fermentasi, pengeringan, dan penggilingan yang lebih terstruktur, singkong kini diolah menjadi tepung dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi.

“Awalnya kami ragu apakah rasanya bisa menyerupai terigu. Ternyata enak, bahkan lebih ringan,” kata Riyanti sembari menunjukkan kemasan tepung mocaf berlabel yang kini dipasarkan kelompoknya.

Saat ini, satu kilogram tepung mocaf dipasarkan dengan harga Rp34.000—meningkat berkali-kali lipat dibandingkan menjual singkong mentah. Selain mocaf, KWT Embun Pagi juga mengembangkan produk turunan seperti eyek-eyek, kudapan ringan berbahan singkong yang renyah dan digemari.

Upaya promosi dilakukan dengan membawa produk mocaf Desa Simpang Bayat ke berbagai pameran tingkat kabupaten hingga provinsi, termasuk ajang Sriwijaya Expo di Palembang. Langkah ini membantu memperkenalkan mocaf sebagai alternatif tepung lokal yang memiliki potensi pasar luas.

Momentum Ramadan turut mendorong meningkatnya permintaan produk berbasis tepung. Mocaf menjadi pilihan menarik karena berfungsi sebagai sumber karbohidrat seperti terigu, namun bebas gluten dan cenderung lebih mudah dicerna. Bagi sebagian masyarakat, makanan berbahan mocaf dinilai lebih ringan untuk lambung setelah seharian berpuasa.

Untuk menu takjil, mocaf diolah menjadi bakwan dan pisang goreng yang renyah. Sementara untuk hidangan berbuka, tepung ini dimanfaatkan sebagai bahan brownies kukus, bolu pandan, hingga kue lapis. Menjelang Lebaran, mocaf juga digunakan untuk membuat nastar, kastengel, dan putri salju dengan tekstur lembut yang tak kalah dari produk berbahan terigu.

Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyampaikan bahwa pengembangan mocaf tidak hanya meningkatkan pendapatan kelompok, tetapi juga berkontribusi mengurangi ketergantungan pada tepung terigu berbasis gandum impor.

“Program pemberdayaan masyarakat dirancang agar memberikan manfaat langsung dan berkelanjutan bagi ekonomi desa. Ini membuka ruang bagi ibu rumah tangga untuk lebih berdaya sekaligus menjadi bagian dari penguatan kemandirian pangan lokal,” ujarnya.

Di bulan penuh keberkahan, kenyalnya cendol dan gurihnya pempek berbahan mocaf menjadi bukti bahwa kemandirian dapat tumbuh dari potensi lokal. Dari singkong yang dahulu dipandang sederhana, kini lahir produk bernilai ekonomi yang tak hanya memperkaya sajian Ramadan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di Desa Simpang Bayat.(Eggy)

Komentar