Rumah Produksi KWT Embun Pagi di Bayung Lencir Dorong Hilirisasi Singkong, Perkuat Nilai Tambah Petani dan Buka Jalan Menuju Pasar Lebih Luas

Muba83654 Dilihat

BAYUNG LENCIR, KM — Singkong yang selama ini identik dengan komoditas bernilai jual rendah mulai menemukan wajah baru di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin. Dari hasil kebun masyarakat, komoditas tersebut perlahan dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah melalui Rumah Produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi.

 

Dari Singkong Murah Menjadi Produk Bernilai, KWT Embun Pagi Bangkitkan Ekonomi Desa Simpang Bayat

Rumah produksi yang berada di Dusun Selaro itu resmi diresmikan pada Kamis, 17 September 2026. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Program tersebut lahir dari kolaborasi Pemerintah Desa Simpang Bayat, Pemerintah Kecamatan Bayung Lencir, serta PHE Jambi Merang di bawah Pertamina Hulu Rokan Zona 1. Kolaborasi itu tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga pendampingan, penyediaan peralatan, peningkatan kapasitas hingga pengembangan produk.

Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Field Manager PHE Jambi Merang R. Satrio Nursabdo bersama Camat Bayung Lencir Zukar, SKM., M.Si. Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekcam Bayung Lencir Aka Anggara Saputra, S.STP., M.Si., Kepala Desa Simpang Bayat Fathurohman, S.E., jajaran pemerintah desa, Ketua KWT Embun Pagi Riyanti beserta anggota, tim Community Involvement & Development dan Corporate Communication PHE Rokan Zona 1, penyuluh pertanian, insan pers, tokoh masyarakat serta tamu undangan.

Suasana peresmian berlangsung hangat. Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebelum dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah pihak yang terlibat dalam program pemberdayaan tersebut.

Bagi anggota KWT Embun Pagi, rumah produksi bukan sekadar bangunan baru. Fasilitas tersebut menjadi titik penting untuk mengubah hasil pertanian masyarakat menjadi sumber penghasilan yang lebih menjanjikan.

Ketua KWT Embun Pagi, Riyanti, mengungkapkan rasa syukur atas dukungan yang diberikan berbagai pihak. Menurutnya, proses pengembangan kelompok selama ini tidak hanya berupa bantuan fasilitas, tetapi juga pendampingan yang membantu anggota memahami bagaimana mengelola potensi singkong secara lebih produktif.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan memberikan dukungan. Khususnya kepada tim PHE Jambi Merang yang selama ini telah bekerja sama dan memberikan berbagai bantuan kepada KWT Embun Pagi,” ujar Riyanti.

Ia mengatakan, keberadaan rumah produksi diharapkan dapat menjadi titik awal pengembangan usaha yang lebih serius sehingga mampu meningkatkan pendapatan anggota kelompok sekaligus memberikan dampak kepada petani singkong di Desa Simpang Bayat.

Riyanti juga berharap pemerintah desa dan kecamatan ikut membantu memperkenalkan produk KWT Embun Pagi kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kami berharap produk kami bisa dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tetapi juga di daerah lain. Kami mohon terus diberikan bimbingan, pembinaan dan dukungan,” katanya.

Selama ini, produksi singkong di wilayah tersebut cukup melimpah. Namun, harga bahan baku yang relatif rendah menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Kondisi itu kemudian mendorong KWT Embun Pagi bersama PHE Jambi Merang mengembangkan pengolahan singkong menjadi tepung mocaf atau Modified Cassava Flour.

Melalui pengolahan yang mencakup fermentasi, pengeringan hingga penggilingan, singkong tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Produk tersebut diarahkan menjadi bahan pangan olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Penguatan juga dilakukan pada aspek kualitas produksi, proses pengolahan, kemasan hingga pemasaran. Dengan demikian, rumah produksi diharapkan bukan hanya menghasilkan produk, tetapi mampu membangun sebuah rantai usaha yang memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat.

Potensi Desa Diubah Menjadi Kekuatan Ekonomi

Kepala Desa Simpang Bayat, Fathurohman, mengatakan pengembangan rumah produksi tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah desa dalam mengangkat potensi ekonomi yang sudah dimiliki masyarakat.

Menurutnya, warga sebelumnya telah memiliki pengalaman mengolah singkong, termasuk memproduksi tepung mocaf. Kehadiran fasilitas produksi yang lebih memadai diharapkan membuat proses tersebut berkembang dari usaha masyarakat menjadi kegiatan ekonomi yang lebih terarah.

“Singkong yang digunakan berasal dari masyarakat lokal Desa Simpang Bayat. Kemudian diolah menjadi tepung dan dapat dikembangkan lagi menjadi berbagai produk makanan,” jelas Fathurohman.

Ia memberikan apresiasi terhadap dukungan PHE Jambi Merang yang membantu pembangunan rumah produksi, penyediaan peralatan serta pelatihan bagi masyarakat.

Fathurohman berharap produk olahan singkong tersebut tidak berhenti sebagai komoditas khas desa, tetapi mampu memasuki pasar yang lebih luas.

“Harapan kami, produk olahan dari Desa Simpang Bayat ini tidak hanya menjadi produk lokal, tetapi dapat dipasarkan lebih luas dan memiliki nilai ekonomi yang semakin baik,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan tepung mocaf juga menunjukkan bahwa desa dapat membangun kekuatan ekonomi melalui sumber daya yang tersedia di lingkungannya sendiri.

Camat Dorong Produk Embun Pagi Naik Kelas

Camat Bayung Lencir Zukar, SKM., M.Si., mengapresiasi langkah pemberdayaan yang dilakukan PHE Jambi Merang bersama masyarakat Simpang Bayat.

Ia menilai tantangan selanjutnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi bagaimana produk tersebut memiliki identitas, kemasan menarik, kualitas konsisten serta akses pemasaran yang lebih luas.

“Jangan hanya singkong menjadi singkong, tetapi harus bisa diolah menjadi berbagai produk makanan. Inilah bentuk inovasi,” ujar Zukar.

Ia mendorong KWT Embun Pagi memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai salah satu sarana memperkenalkan produk. Media sosial, menurutnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas jangkauan promosi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pemasaran konvensional.

Zukar juga berharap produk KWT Embun Pagi dapat secara bertahap memasuki toko, minimarket maupun berbagai pusat pemasaran lainnya.

“Kalau kemasannya bagus dan produknya berkualitas, kita harus berani bersaing dengan produk lain. Potensi ini harus kita angkat menjadi brand Desa Simpang Bayat dan Kecamatan Bayung Lencir,” tegasnya.

Ke depan, ia berharap rumah produksi tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan, tetapi dapat berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi sekaligus gerai pemasaran produk masyarakat.

Program serupa juga diharapkan dapat dikembangkan di desa-desa lain di Kecamatan Bayung Lencir sehingga semakin banyak potensi lokal yang mampu diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Pertamina: Masyarakat Harus Menjadi Pelaku Utama

Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio Nursabdo, mengatakan keberadaan rumah produksi merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, masyarakat Simpang Bayat sesungguhnya telah memiliki modal utama berupa potensi dan pengalaman dalam mengolah singkong. Dukungan perusahaan diarahkan untuk memperkuat kemampuan tersebut agar berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang dapat berjalan secara mandiri.

“Pemberdayaan masyarakat harus berkelanjutan. Kami hanya menjadi pemicu atau trigger, sementara pengembangannya membutuhkan kolaborasi pemerintah desa, kecamatan, masyarakat dan stakeholder lainnya,” jelas Satrio.

Ia menegaskan, tujuan pemberdayaan bukan membuat masyarakat terus bergantung terhadap bantuan, melainkan menciptakan kemampuan agar masyarakat mampu mengembangkan usahanya sendiri.

“Kami hanya membantu membuka jalan, melatih, dan mendampingi agar kalian berjalan sendiri melampaui kami,” ujarnya.

Satrio berharap semangat pengembangan potensi lokal tersebut dapat menular ke desa-desa lain. Menurutnya, setiap wilayah memiliki kekayaan dan peluang yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara tepat.

Ia juga menilai pengembangan tepung mocaf memiliki keterkaitan dengan penguatan pangan lokal sekaligus peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat.

Karena itu, dukungan terhadap KWT Embun Pagi tidak berhenti pada pembangunan rumah produksi. Penguatan kapasitas, peningkatan kualitas produk, pengembangan kemasan serta perluasan pemasaran menjadi bagian penting agar usaha tersebut dapat tumbuh.

PHE Jambi Merang juga membuka ruang kolaborasi lanjutan bersama pemerintah dan masyarakat untuk mendorong pengembangan program pemberdayaan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Dari Rumah Produksi Menuju Pasar Nasional

Usai prosesi peresmian, para tamu melihat langsung berbagai produk yang dihasilkan KWT Embun Pagi. Tepung mocaf menjadi salah satu produk utama, disamping berbagai olahan berbahan dasar singkong lainnya.

Pemandangan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan sederhana namun penting: singkong dari kebun warga tidak lagi semata-mata dijual sebagai bahan mentah, tetapi mulai diproses menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Rumah Produksi KWT Embun Pagi akhirnya bukan hanya berbicara mengenai sebuah fasilitas baru. Lebih jauh, tempat tersebut menjadi ruang bertemunya potensi pertanian, kreativitas perempuan desa, pendampingan perusahaan dan dukungan pemerintah.

Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas, meningkatkan kapasitas produksi, membangun merek, memperkuat kemasan dan membuka akses pasar secara konsisten.

Jika seluruh mata rantai tersebut dapat berjalan beriringan, singkong yang selama ini dijual dengan nilai terbatas memiliki peluang untuk memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar bagi petani dan anggota KWT.

Dari Simpang Bayat, sebuah gagasan sederhana sedang dibangun: mengolah apa yang dimiliki desa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat sendiri.

Komentar