SUMSEL,KM-Pertamina EP Prabumulih Field kembali mencatatkan capaian positif dalam upaya meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas).
Setelah sebelumnya berhasil menemukan potensi baru melalui Sumur Interfield LKT-01, perusahaan kini sukses menyelesaikan pengeboran Sumur LBK-031 yang menjadi sumur infill atau sumur sisipan pengembangan kelima di wilayah operasinya.
Hasil uji alir awal (initial flow test) menunjukkan performa yang menggembirakan.Sumur LBK-031 mampu menghasilkan potensi produksi minyak sebesar 2.068 barel minyak per hari (BOPD) dan gas mencapai 2,68 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan aliran natural (open flow) dari lapisan TAF-H.
General Manager Zona 4, Djudjuwanto, mengatakan keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa lapangan migas yang telah lama berproduksi atau mature field masih memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan melalui penerapan teknologi serta inovasi di bidang eksplorasi dan pengembangan.
“Keberhasilan pengembangan Sumur LBK-031 membuktikan bahwa lapangan mature masih memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui inovasi, teknologi, dan optimalisasi yang berkelanjutan,” ujar Djudjuwanto.
Menurutnya, produksi dari sumur baru tersebut akan menjadi tambahan penting bagi kinerja Pertamina EP Prabumulih Field yang berada di bawah Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 dalam memenuhi target produksi migas nasional.
Sumur infill sendiri merupakan sumur tambahan yang dibor di antara sumur-sumur yang telah ada pada satu lapangan migas.
Pengeboran jenis ini bertujuan mengoptimalkan cadangan hidrokarbon yang masih tersisa di dalam reservoir sehingga potensi produksi dapat dimaksimalkan tanpa harus membuka lapangan baru.
Sumur LBK-031 berada di Struktur Lembak yang terletak di kawasan timur laut Kota Prabumulih dan secara administratif masuk ke wilayah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Proses pengeborannya berlangsung selama 52 hari, dimulai pada 9 Mei hingga selesai pada 29 Juni 2026. Pada hari yang sama, perusahaan langsung melakukan uji alir awal dengan hasil yang melampaui ekspektasi.Keberhasilan pengeboran tersebut tidak terlepas dari penerapan inovasi di sektor subsurface.
Djudjuwanto menjelaskan, tim teknis menggunakan metode High Resolution Stratigraphic Mapping, yakni teknik pemetaan lapisan batuan bawah permukaan dengan tingkat detail yang lebih tinggi.
Melalui metode tersebut, tim mampu mengidentifikasi potensi hidrokarbon yang berada pada endapan syn-rift, yaitu lapisan sedimen awal yang terbentuk bersamaan dengan proses pembentukan cekungan akibat aktivitas sesar di atas batuan dasar atau basement.
Pendekatan ini membuat penentuan target pengeboran menjadi lebih akurat sehingga peluang keberhasilan sumur meningkat secara signifikan.
Selain berhasil dari sisi teknis, proyek pengembangan Sumur LBK-031 juga diselesaikan tanpa mencatatkan kecelakaan kerja.
Seluruh tahapan pengeboran dilakukan dengan mengedepankan standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta prinsip Operational Excellence, yang menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas operasi perusahaan.
Djudjuwanto menambahkan, Sumur LBK-031 merupakan pengembangan kelima setelah keberhasilan penemuan Sumur Interfield LKT-01 yang digagas oleh tim Subsurface and Development Planning (SSDP) Zona 4.
Lokasi sumur ini berada di antara Struktur Lembak dan Struktur Tapus yang dinilai masih menyimpan cadangan migas yang prospektif.
Sebelumnya,Pertamina EP Prabumulih Field juga sukses mengembangkan Sumur LBK-030. Pada uji alir awal, sumur tersebut mencatatkan potensi produksi mencapai 3.073 BOPD serta 1,64 MMSCFD gas melalui metode open choke.
Keberhasilan dua sumur tersebut semakin memperkuat optimisme perusahaan dalam meningkatkan produksi migas dari lapangan yang telah lama beroperasi.
Sebagai tindak lanjut, Pertamina EP Prabumulih Field telah menyiapkan rencana pengeboran Sumur LKT-023 yang dijadwalkan berlangsung pada triwulan ketiga tahun 2026.(Eggy)








Komentar