Program Pertamina Dorong Ibu-Ibu Prabumulih Mandiri Pangan dan Tambah Penghasilan

Prabumulih64463 Dilihat

Prabumulih,KM— Fluktuasi harga bahan pangan kerap menjadi tantangan bagi keluarga, terutama kaum ibu. Kondisi itu dirasakan Tri Ningsih (57), warga Kelurahan Patih Galung, Kota Prabumulih, yang setiap pekan harus mengalokasikan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu untuk belanja kebutuhan dapur.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Tri mencoba memanfaatkan pekarangan rumahnya yang selama ini terbengkalai untuk menanam sayur dan umbi-umbian. Namun, keterbatasan pengetahuan membuat upaya awal itu belum membuahkan hasil optimal.

Perubahan mulai terjadi ketika Pertamina EP Prabumulih Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4, meluncurkan program pemberdayaan MUDA BERSAMA (Perempuan Berdaya, Bersama Kelola Sampah). Program ini mengusung dukungan kemandirian pangan melalui pelatihan pengolahan pupuk dari limbah rumah tangga, pengenalan tanaman obat keluarga (TOGA), hingga pemasaran produk.

Tri Ningsih yang juga Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning bergabung bersama 30 perempuan lainnya. Mereka belajar membuat pupuk organik dari sisa sayuran, air cucian beras, dan kompos. Berbekal pengetahuan tersebut, Tri kembali mengolah lahan tidur di sekitar rumahnya.

Hasilnya, berbagai tanaman—mulai dari sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, hingga tanaman obat—tumbuh subur dengan pupuk organik. Kini, anggota KWT Kemuning tak lagi terlalu tertekan oleh naik-turunnya harga pangan karena kebutuhan dapur dapat dipetik langsung dari pekarangan. Penghematan belanja mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per minggu.

Tak berhenti pada pemenuhan kebutuhan keluarga, hasil panen juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Minuman tradisional seperti wedang beras kencur, jamu seduh instan, wedang kunyit asam, serta bibit tanaman siap tanam dipasarkan dengan harga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Dari penjualan tersebut, omzet kelompok menembus Rp1 juta per bulan.

“Tantangan kami jadikan penyemangat. Terpenting kompak dan saling mendukung. Kami ingin masyarakat sekitar ikut mandiri dan bisa menghasilkan sesuatu dari rumah,” ujar Tri Ningsih.

Kini, KWT Kemuning tak hanya merasakan manfaat program tersebut, tetapi juga menjadi pusat belajar bagi 13 KWT lain di Prabumulih—menunjukkan bahwa kemandirian pangan dapat tumbuh dari pekarangan rumah dan solidaritas komunitas.(Eggy)

Komentar